MENDIDIK ANAK

Thursday, December 20, 2007

Karena Dia Takut, dan Dia Takut, Itu Saja

Kembali, saya melakukan kesalahan yang sama : lupa mengisi buku agenda bulanan. Akibatnya, saya membuat apoinmen dengan dokter gigi di waktu yang salah. Saya tak menyadari, bahwa mulai hari ini, si Tengah sudah mulai libur musim dingin. Itu berarti, dia ada di rumah seharian. Saya membuat janji dengan pihak klinik hari ini, dan itu juga berarti, bakalan ada masalah dengan keberadaan si Tengah.

Opsi pertama, si Tengah bisa saya bawa sekalian. Itu berarti ada dua anak kecil bersama saya. Adiknya, si Bungsu, memang akan ikut dikontrol giginya. Sepertinya ini opsi yang bagus, apalagi cuaca di luar cukup cerah. Tetapi, masalah kemudian timbul saat saya menyadari betapa sempitnya ruang tunggu di klinik itu. Orang Jepang sangat tidak suka yang tidak berkepentingan ikut memenuhi ruangan. Beberapa tahun yang lalu, di tempat lain, kami mendapat peringatan karena membawa masuk anak-anak yang sebenarnya bukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan. Oke, item ini dihapus.


Opsi kedua, saya meninggalkan si Tengah di rumah. Usianya sudah 6 tahun, sudah kelas satu sebenarnya, menurut hukum setempat, tidak apa-apa ditinggal sendirian di rumah. Saya meminta persetujuannya, dan ia mengangguk, meski dengan wajah kecut.


"Sebenarnya takut, Ma..."


"Takut apa?"

"Takut, ya takut..."

"Hm... gak ada yang perlu ditakuti. Fadhl pegang hapenya Kakak. Kalungin. Udah bisa kan telepon Mama. Fadhl di kamar saja, main game Akira di komputer. Atau nonton Doraemon. Atau, bisa juga main sama Kikki [seekor kelinci] di ruang tengah. Pintu semua Mama kunci, dan Fadhl jangan angkat telepon rumah dan jangan bukakan pintu, siapapun yang membel."


Begitulah, akhirnya ia setuju.


Tiba di dokter gigi, olala. Banyak sekali pasien! Kami bahkan tak bisa menunggu di dalam. Terpaksa berdiri di luar, di tengah sapuan udara musim dingin yang mengeringkan kulit dan membuat serak tenggorokan. Pikir punya pikir, kami bakalan mesti menunggu sekitar satu jam ke depan.


Wah, kasihan si Tengah di rumah. Ia tentu ketakutan ditinggal begitu lama. Akhirnya saya masuk dan menuju bagian resepsionis. Saya katakan, saya akan balik satu jam lagi. Petugas menyetujui. Pulanglah saya, dan saya akan kembali ke klinik itu bersama si Tengah, membawa kartu pasiennya, memintanya ikut diperiksa.


Takut, takut. Sebenarnya saya agak kesal juga, apa sih yang ditakuti. Tapi, kita sendiri tentu sering "memelihara" ketakutan yang tak beralasan. Kalau kita orang dewasa sendiri begitu, semestinya kita belajar berdamai dengan rasa takutnya anak-anak.

Sikat Gigi


Memenej perawatan gigi tiga orang anak, tidaklah gampang. Kadang sudah diingatkan, lupa lagi. Bangun-bangun, ada pamer gigi yang jauh dari bersih. Akhirnya, saya punya kebiasaan baru : tiap pagi dan malam, menyiapkan tiga batang sikat gigi kecil di wastafel, lengkap dengan segelas air untuk kumur-kumur, juga pasta gigi yang teroles di atas sikatnya.


Untuk si Bungsu, kalau bukan saya, jelas suami yang menyikatkan giginya. Meskipun ia sendiri selalu ingin sikat gigi sendiri. Si Bungsu yang baru tiga tahun ini bahkan sering mengingatkan saya, bila ia belum sikat gigi.


Si Tengah dan Si Sulung yang lebih sering lupa. Tapi, dengan kebiasaan menyiapkan sikat gigi, jadi ketahuan siapa yang lupa. Lebih mudah mengontrolnya.

Sunday, February 11, 2007

Anak-Anak Belajar dari Yang Dilihat, Bukan Doktrin

Anna Nicole Smith. Baru pertama saya mengenal namanya tiga hari yang lalu. Kematian mendadak perempuan kaya nan seksi itu jadi sorotan hampir semua jenis media. Televisi di Jepang juga. Mereka heboh dengan warisan yang luar biasa besarnya itu, dan permasalahan hak waris akan jatuh ke siapa.

Pagi tadi, kami menyaksikan berita itu. Si Sulung turut menonton. Ia protes, "Kenapa lihat yang jorok-jorok?" Begitu katanya, berhubung foto-foto si Nicole memang semuanya "panas". "Bukan mau lihat gambarnya, cuma mau lihat beritanya."

Pada detik itu juga saya langsung mengerti, sebuah pelajaran jelek telah diberikan pada si Sulung. Bahwa orang besar memandang dengan lekat ke televisi yang sedang menampilkan foto-foto atau video perempuan seksi, tidak sama dengan kasus dia, sebagai anak-anak, ingin menyaksikan film kartun yang kebetulan beberapa tokohnya juga berpakaian seksi. Ia toh bisa beralasan juga, "Cuma mau lihat ceritanya, bukan pakaian tokohnya."

Begitu sulit mematikan televisi seketika setelah si Sulung memprotes, sebenarnya sekedar wujud ego orang dewasa saat berhadapan dengan anak kecil. Menonton berita selebritis seperti itu sebenarnya tak mendatangkan keuntungan apa-apa sama sekali. Sebaliknya, proses kecil tadi itu akan lebih berdampak jelas pada proses pendidikan yang berlangsung pada Si Sulung.

Tuesday, February 06, 2007

Pencarian Si Bungsu

Adalah sangat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk bisa menyaksikan perkembangan anak sendiri dari hari ke hari.

Si Bungsu, 2 tahun 3 bulan, saat tidur siang sore tadi, terbangun di samping saya. Saya sendiri masih pura-pura tetap tidur, ingin mengetahui aksinya bila sendirian terjaga. Pertama ia keluar dari kamar, dengan membuka sendiri dan menutup dengan sempurna pintu kamar. Itu memang kebiasaannya yang buat saya menjadi sebuah tanda bekal sifat sensitifitas yang bagus akan keadaan sekitar. Selanjutnya dia kembali lagi masuk, tak lupa menutup pintu kamar. Lalu dia merebahkan diri di samping saya, meminta saya menghadapkan wajah kepadanya, lalu dipegangnya pipi saya sambil sedikit mencubit-cubitnya. Saya sangat menyukai kebiasaannya ini. Bosan tak bisa tidur lagi, dia pun membangunkan saya, minta dibuatkan susu. Yah, waktu memang sudah hampir magrib. Sudah waktunya bangun. Saya pun memintanya menunggu di kamar, hendak turun ke lantai satu. Sebelum membuat susu, saya singgah dulu di toilet. Saat di dalamnya, terdengar suara kaki kecil si Bungsu menuruni tangga. Selalu saja ada rasa ngeri kalau tiba-tiba dia terjatuh, tapi segera saya tepiskan perasaan itu karena khawatir perasaan seorang ibu bisa jadi pencetus kenyataan. Dia pun tiba di bawah dengan selamat, lalu terdengar berjalan ke sana ke mari, dari ruang keluarga, ke dapur, ke tempat sepatu, ke tempat cuci baju, mencoba naik lagi dua-tiga anak tangga, turun lagi... Saya tetap tak bersuara sama sekali di dalam toilet. Ingin tahu, apakah akalnya sampai bisa melacak kemungkinan di mana saya berada?

Selanjutnya terdengar dia naik lagi dua-tiga anak tangga. Kengerian akan kemungkinan dia terjatuh dan rasa kasihan kalau sampai dia naik kembali ke atas untuk mencari saya, membuat saya tak tahan untuk tidak memanggilnya.

"Mama di sini."
"Di mana?"

Saya tak menjawab, saya hanya membunyikan suara air. Tak lama kemudian tangan mungilnya membuka pintu toilet yang memang sengaja tak saya kunci.

"Baaaaa", katanya, begitu melihat saya.

Bahwa si Bungsu selalu mencari saya, adalah sebuah anugrah yang mungkin tak dirasakan banyak perempuan.

Saturday, January 06, 2007

De' Gaga Tolo' Mati

Kemarin dan hari ini, media cetak dan digital Jepang mengangkat berita tentang seorang remaja laki-laki yang membunuh adik perempuannya yang usianya terpaut hanya satu tahun.

Yuki Muto dengan dingin mengakhiri hidup adiknya di tempat kost mereka di pusat Tokyo. Ia membagi-bagi tubuh adiknya itu, membuangnya di tempat sampah, dan menyisakannya hingga berbau busuk di lemari pakaian.

Ah, saat menonton berita itu, saya memberi isyarat pada suami untuk tidak berbincang soal itu dalam bahasa yang dimengerti anak-anak. Tidak bahasa Indonesia, dan tidak juga bahasa Jepang : pakai bahasa Inggris. Tetapi, si Sulung sudah cukup bisa mengerti apa yang dikatakan televisi. Segera saja saya matikan.

Saya cuma teringat dengan kata-kata orang tua dulu, saat saya yang masih kanak-kanak menonton film dan merasa ketakutan. Orang-orang tua akan menghibur dengan istilah, "De' gaga tolo' mati". Artinya, tidak ada jagoan cerita yang mati. Orang-orang tua dulu menjaga anak-anak mereka dari rasa takut.

Karena itulah, saya juga ingin menjaga anak-anak dari skenario-skenario mengerikan yang sayangnya bukan film, tapi terjadi betul di dunia nyata. Biarlah, masa kecil mereka cukup dipenuhi dengan cerita Sinderela atau Putri Salju. Usah ada cerita Yuki Muto atau yang serupa dengannya membekas di memori kanak-kanak mereka.

Wednesday, November 22, 2006

Tidur Siang atau Bermain

Hari ini udara lebih dingin enam derajat celcius dibandingkan kemarin. Awan mendung cukup pekat, seperti tarik tambang dengan bumi, di mana talinya adalah uap air. Hingga saat ini awan masih memenangkan pertandingan itu, hujan tak berhasil dijatuhkan gaya gravitasi ke bumi.

Hari ini libur. Hari terima kasih nasional kepada para bapak yang telah bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Ups, sentimen jender? Adakah hari terima kasih nasional buat para ibu yang juga bekerja keras mencari nafkah? Oke, soal jender stop sampai di situ.

Karena libur dan cuaca tak bersahabat, saya sangat ingin hari ini anak-anak tidur siang. Khawatir jatuh sakit. Sudah lama sekali mereka tak tidur siang, dan sudah lama juga saya tidak membacakan mereka satu-dua buku di siang hari. Ini karena Si Sulung dan Si Tengah itu pulang sekolah jam tiga sore. Selanjutnya, dua kali sepekan ada kursus karate dan kursus kumon, sampai sekitar jam tujuh. Untuk tidur siang, biasanya tidak sampai puas, malah jadi tambah tak nyaman rasanya karena masih ngantuk sudah harus berangkat lagi.

Pagi-pagi saya sudah meminta janji mereka bahwa hari ini mereka boleh main dengan teman-temannya sampai jam dua siang. Setelah itu pulang dan tidur. Mereka setuju. Si Sulung membawa jam tangan. Si Tengah sendiri, --penemuan baru : ternyata dia begitu pemalu--, memilih bermain game saja di komputernya. Dia malu bertemu teman-teman yang sebagian besar lebih dulu menjadi teman Si Sulung : perempuan, dan sudah SD.

Kelakuan malu-malu si Tengah ini benar-benar kelihatan. Dia putar-putar di pekarangan rumah dan hanya melirik taman bermain yang kelihatan jelas dari pekarangan rumah kami lantaran letaknya memang di ketinggian sedangkan taman bermain itu di bawah. Beberapa kali dia masuk kembali, keluar lagi, masuk kembali. Akhirnya dia bilang, "Saya tidak bisa Ma, saya malu."

Saya sedih mendengarnya. Rasanya saya telah salah mendidik sehingga dia seperti tak punya kepercayaan diri. Menurut para pakar psikologi, anak yang kurang percaya diri biasanya disebabkan terlalu banyak dilarang. Dan mungkin sekali, sadar tidak sadar, saya telah banyak memberlakukan larangan.

Tapi saya tak memaksanya untuk mengubah rasa malunya itu. Tidak mungkin memintanya berubah instan saat itu juga. Jadi, saya anjurkan dia bermain game saja lagi.

Jam sudah menunjukkan pukul dua. Si Tengah sudah mem-pause-kan komputernya, karena dia ingin melanjutkannya nanti setelah tidur siang. Dia mengambil buku, dan bersiap tidur di kamar saya. Saya melihat-lihat Si Sulung dan teman-temannya yang bermain di taman bawah. Sesekali saya lihat dia melihat jamnya dan pelan-pelan berjalan menjauhi taman bermain. Meskipun jelas terlihat dia masih sangat tertarik dengan kegembiraan anak-anak lain. Berlarian, kejar-kejaran, main petak umpet.

Saya jadi terenyuh. Seberapa besarkah arti tidur siang, dibandingkan kebebasan anak-anak bermain sepuasnya? Dulu saya tak pernah dihentikan bermain untuk urusan tidur siang. Saya betul-betul puas bermain sampai kulit saya jadi cokelat tua terbakar matahari, hingga matahari menjelang terbenam.

Teman-teman si Sulung seperti menyesali juga Si Sulung akan segera berhenti bermain. Mereka menaiki tangga menuju rumah, mengantar ramai-ramai kepulangan si Sulung. Pada saat itu juga saya tahu saya mesti mengubah perjanjian kami. Si Tengah pun juga ikut keluar. Saya katakan, tidak usah tidur siang. Bermain saja kalau masih mau main. Si Tengah akhirnya mau berbaur, karena saya dan kakaknya memperkenalkannya pada anak-anak lain.

Rasanya senang melihat Si Tengah ikut berlarian di taman bawah. Tentu lebih membahagiakan daripada melihatnya tergeletak di atas kasur, meskipun lebih hangat dan aman. Hangat dan aman buat badan, tapi belum tentu hangat dan aman buat jiwa, bukan?

Friday, September 08, 2006

Surat Tengah Malam

Anak-anak Mama yang baik, lucu, ceria, dan unpredictable...

Entah ini kali keberapa Mama kembali bisa bangun malam. Bangun, sendiri, di saat kalian dan bapak kalian tengah lelap begitu nyenyaknya dalam mimpi masing-masing, yang juga entah..., apakah beririsan satu sama lainnya, apakah cerita di kamar tidur kalian sama dengan cerita di kamar tidur bapak?

Anak-anak Mama yang manis, kreatif, dan selalu punya rasa ingin tahu yang seperti mau menembus angkasa luar,

Bangunnya Mama di setiap malam adalah kebutuhan Mama untuk belajar banyak hal. Entah untuk menjadi ibu yang baik bagi kalian, entah untuk menyingkap pertanyaan-pertanyaan hidup yang, ah, adakah juga akan menghampiri kalian kelak, setelah dewasa...? Sebab di hari pagi, di hari siang, di hari sore, juga di hari magrib, rutinitas membuat mama berubah seperti robot, yang seringkali bereaksi tanpa rasa dan pikir lagi...

Anak-anak Mama yang patuh sekaligus kritis,

Mama ingat hari-hari kanak-kanak Mama..., malam-malam hari banyak yang lewat dengan dengan rasa damai. Namun juga tak jarang, ada malam-malam di mana Mama menangis sendiri. Mama kecil kala itu kadang dihinggapi takut kalau Mamanya Mama, Nenek kalian, cepat meninggal. Mama kecil waktu itu sangat cinta dan sayang pada Mamanya Mama. Kalau Mamanya Mama bepergian, Mama bolak-balik ke pintu berharap Mamanya Mama cepat pulang dengan selamat. Dan rasanya, hingga kini, sosok Mamanya Mama itu biasa menjelma dalam batin Mama sebagai malaikat suci yang tanpa cacat sama sekali, sebagai sosok ibu yang selalu tersenyum penuh kasih pada anak-anaknya, yang selalu rela berkorban, tanpa keluh setitikpun.

Anak-anak Mama yang suci, tanpa dosa

Mama tak tahu, adakah kalian juga bisa mengenang Mama kelak seperti itu? Tidak, Mama bahkan tak yakin sama sekali... Karena Mama merasa diri Mama sangat jauh dari pribadi mulia Mamanya Mama itu... Sayang-sayang Mama, begitu banyak hari-hari terlewati dalam gugup dan ketidakstabilan Mama menjalankan peran Mama buat kalian...

Sungguh, Mama minta maaf. Dan tiap kali Mama terbangun setelah tidur 3-4 jam di malam hari, Mama selalu bersyukur pada Pencipta bahwa Mama masih juga diberi nafas kehidupan, sekiranya jadilah hari ini Mama sebagai sebaik-baik ibu, sekiranya hari ini dapatlah Mama mewujud sebagai Putri Salju yang lembut, yang keramahannya membuat kancil, kelinci, kuda, orang kecil, semua bergembira di hutan.

Anak-anak Mama, kalian adalah guru Mama, kalian menjadi cermin yang selalu memantulkan tanpa tedeng aling-aling segala kemunafikan, kepengecutan, ketidakutuhan pribadi, yang selalu berusaha Mama obati dalam diri Mama... Bilalah kelak kalian sudah dewasa dan membaca ini, kirimkanlah doa dan kemaafan buat Mama...

Teruslah kalian berceria, besok pagi bangun dan tertawalah lagi. Menangis pun tak apa, karena tangis pun juga jadi guru yang baik...

Tuesday, September 05, 2006

Menjaga Penampilan Emosi : Sangat Esensialkah?


Akhir-akhir ini saya banyak heran sekaligus kewalahan dengan reaksi-reaksi anak-anak. Kadang ingin sekali melihat mereka punya sensitifitas berdisiplin secara mandiri, tanpa perlu diawasi satu lawan satu sepanjang waktu dan di setiap tugas, kadang juga saya merasa begitu kasihan akan "kekanak-kanakan" mereka.

Saat kasihan, biasanya saya menampilkan rasa itu di hadapan mereka, mungkin, dengan sangat jelas : memeluk, mencium, memanggil sayang, dan juga kadang minta maaf pada mereka atas segala kemarahan yang pernah saya luapkan pada mereka.

Tapi, saya mengamati, setelah menampilkan rasa kasihan itu, mereka jadi banyak meminta ini dan itu. Seperti cerdik saja mengenali suasana hati mamanya, dan tahu dalam keadaan begitu, mungkin sekali apa yang biasa saya tidak penuhi, akan jadi kebalikannya.

Saya jadi ingat pesan Mama. Bahwa penting bagi orang tua, untuk menjaga penampilan kestabilan emosi di hadapan anak-anak. Ketika marah jangan terlalu, ketika sayang juga jangan terlalu. Itu akan memudahkan mereka untuk menciptakan nuansa perasaan positif dan dewasa di dalam diri mereka sendiri. Emosi mereka juga jadi cenderung stabil, tidak meluap-luap.

Dalam hati boleh saja emosi itu bergejolak, tapi PENAMPILAN-nya di luar yang perlu distabilkan.

Benarkah? Barangkali. Mari kita coba.